Perkembangan Sosial Budaya Masyarakat Kampung Segeram Dari Engku Fatimah Hingga Generasi Bujang Din
DOI:
10.56783/js.v1i1.5Downloads
Abstract
Segeram merupakan kampung yang terletak di bagian barat pulau utama Kabupaten Natuna atau secara administratif kampung Segeram masuk di Kelurahan Sedanau Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Kepulauan Riau. Pejabat tertinggi di kampung Segeram ini adalah ketua Rukun Warga (RW). Kampung Segeram dianggap sebagai awal mula peradaban Natuna. Masyarakat Natuna meyakini bahwa kampung Segeram merupakan satu kerajaan yang maju setelah munculnya seorang putri yang bernama Engku Fatimah dari Johor Malaysia. Namun, kerajaan Segeram mundur dan berakhir setelah meninggalnya Raja Segeram dan anaknya putri Denuk.
Kampung Segeram hingga saat ini masih tetap dalam kondisi tertinggal meski di tahun-tahun terakhir pemerintah mulai memberi perhatian. Dari masa Engku Fatimah hingga Bujang Din (Samsudin), penduduk Kampung Segeram tidak pernah ramai, hanya ada 34 kepala keluarga yang berdomisili di sana. Dan perkembangan sosial budaya sebagai wilayah yang pernah menjadi kerajaan sama sekali tidak tampak, meski Kampung Segeram sangat dikenal dengan makanan khasnya, cancalok dan belacan. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah lantaran sumpah Putri Denuk karena sakit hati lantaran dikhianati rakyatnya? Ataukah memang karena keterpencilan kampung Segeram? Tulisan ini bertujuan untuk mencari jawab terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.Ada pun penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data utama melalui wawancara.
Segeram village is located in the western part of the main island of Natuna Regency or administratively, the village of Segeram is included in the Sedanau Village, West Bunguran District, Natuna Regency, Riau Islands. The highest official in this village is the head of the RW (Rukun Warga), the village of Segeram is considered the beginning of the Natuna civilization. Tthe Natuna people believe that the village of Segeram is an advanced kingdom after the emergence of a princess named Engku Fatimah from Johor Malaysia. However, the kingdom of Segeram retreated and ended after the death of Segeram King and his daughter, Putri Denuk.
Segeram village is still in a backward condition even though in recent years the government has begun to pay attention to it. From the time of Engku Fatimah to Bujang Din (Samsudin), the residents of Soonm Village were never crowded, there were only 34 heads of families living there. And the socio-cultural development as an area that was once a kingdom is not visible at all, even though Segeram village is very well known for its special foods, cancalok and belacan. What exactly happened? Was it because Princess Denuk's oath was hurt because her people betrayed her? Or is it because of the remoteness of the village of Soonm? This paper aims to find answers to these questions. The research used is descriptive qualitative with the main data collection technique through interviews.
License
Copyright (c) 2022 Suparman Suparman, Muci Herliyanto, Dallah Dallah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
